Kisah di Balik Gunungan (Kayon) Wayang: Simbol Kosmos, Kehidupan, dan Jalan Menuju Sang Pencipta

Dalam setiap pertunjukan Wayang Kulit Purwa, ada satu tokoh yang wajib hadir, yang membuka sekaligus menutup seluruh lakon: Gunungan, atau yang juga dikenal dengan sebutan Kayon (berasal dari kata Kayun yang berarti hasrat atau tujuan).
Gunungan bukanlah sekadar ornamen panggung, melainkan sebuah diagram semesta yang sarat akan nilai filosofi tinggi. Ia melambangkan seluruh alam raya, proses kehidupan manusia, hingga tujuan akhir spiritual.
Berikut adalah kisah dan makna mendalam yang tersimpan di balik bentuk Gunungan Wayang:
1. Fungsi Utama: Gerbang Pembuka dan Penutup Semesta
Secara fungsi praktis dalam pertunjukan, Gunungan memiliki peran krusial:
-
Pembuka dan Penutup: Di awal pertunjukan, Gunungan ditancapkan tegak lurus di tengah-tengah layar (kelir), menandakan alam semesta dalam keadaan sunyi, kosong, dan belum ada kehidupan. Ketika pertunjukan usai, ia kembali ditancapkan di tengah (tancep kayon), melambangkan berakhirnya babak kehidupan.
-
Pergantian Babak: Dalang menggunakan Gunungan (ditancapkan condong ke kiri) sebagai tanda untuk menutup satu adegan atau memindahkan suasana ke adegan lain, atau melambangkan angin, badai, dan bahkan api.
-
Visualisasi Hutan: Sisi Gunungan yang penuh dengan satwa dan tumbuhan melambangkan hutan belantara, yang merupakan gambaran keadaan dunia beserta segala isinya yang belum terjamah dan masih murni.
2. Makna Filosofi Bentuk: Segitiga Kosmik
Bentuk Gunungan yang meruncing ke atas (segitiga) memiliki makna filosofis yang mendalam:
-
Puncak Gunung/Api: Bentuk puncak yang runcing melambangkan Gunung Agung yang merupakan tempat tertinggi dan suci. Ini juga melambangkan api (Brahma) yang memberikan penerangan batin dan arah dalam kegelapan.
-
Perjalanan Hidup (Sursum Corda): Bentuk segitiga melambangkan perjalanan hidup manusia dari bawah (kelahiran dan duniawi), naik ke atas (pengembangan spiritual dan budi luhur), hingga kembali ke satu titik (bersatu dengan Sang Pencipta/Tuhan).
3. Simbol Detail dalam Gunungan (Kayon)
Gunungan dipenuhi dengan ornamen yang masing-masing memiliki arti spesifik:
| Ornamen | Simbol Makna Filosofis |
| Pohon Hayat (Kalpataru) | Pohon Kehidupan. Melambangkan wilayah sakral, kesucian, dan pusat alam semesta. |
| Ular Naga Membelit Pohon | Simbol hasrat (nafsu) duniawi yang membelit kehidupan manusia, menunjukkan bahwa manusia harus berjuang melepaskan diri dari ikatan dunia. |
| Gambar Binatang (Kera, Harimau, Banteng) | Melambangkan keadaan dunia beserta berbagai karakter dan sifat hewani yang ada di dalamnya. Monyet juga melambangkan alam kedewaan (antara bumi dan langit). |
| Gapura atau Balai (Pintu Tertutup) | Melambangkan gerbang menuju alam puncak (alam rohani). Pintu yang tertutup mengisyaratkan bahwa untuk mencapai alam spiritual, manusia harus melalui proses perenungan dan pembersihan diri. |
| Dua Raksasa Penjaga (Dwarapala) | Simbol dua sifat dalam diri manusia: baik (Bala Upata) dan buruk (Cingkara Bala). Raksasa penjaga ini menunjukkan bahwa hanya mereka yang mampu menyeimbangkan dan mengendalikan hati yang diizinkan memasuki alam spiritual. |
| Sisi Balik (Warna Merah) | Melambangkan api atau kekacauan (Neraka). Ini adalah representasi dari fenomena alam atau hawa nafsu yang tidak terkendali, menunjukkan konsekuensi jika manusia gagal mengendalikan dirinya. |
4. Jenis Gunungan: Gapuran vs. Blumbangan
Secara tradisional, Gunungan Wayang terbagi dua:
-
Gunungan Blumbangan: Gunungan yang lebih tua (sejak era Demak). Bagian bawahnya bergambar kolam (blumbangan), yang sering diartikan sebagai lautan rintangan yang harus dilalui manusia.
-
Gunungan Gapuran: Gunungan yang lebih baru (sejak era Mataram). Bagian bawahnya bergambar rumah atau gapura (gerbang). Gunungan ini juga sering disebut Gunungan Laki-laki (melambangkan kejantanan), sementara Blumbangan dianggap Gunungan Perempuan.
Kisah Gunungan mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang harus dijalani dengan kebijaksanaan dan tuntutan moral yang tinggi. Nilai-nilai filosofis inilah yang terus diwariskan dari zaman ke zaman, termasuk melalui karya-karya seni yang terinspirasi dari Wayang.